CERPEN.
GENRE: PAHLAWAN
"Jejak Surga Pahlawan
Kita"
Penulis:
Heru Suganda
"AllahuAkbar" Begitulah
lantangan keras para pasukan
Pribumi Indonesia yang mempertahankan kemerdekaan menghadap
sekelompok Pasukan Sekutu
yang bersikeras merebut kekuasaan Indonesia, Umat Muslim Indonesia hingga tak
menghiraukan apapun serangan Cekcok
mereka,
mereka para jepang tinggal mengendalikan senjata pelurunya ataupun menyibakkan
pedang bak samurainya. Sementara bangsa nekat Pribumi Indonesia hanya
menyerahkannya pada sepanjang bambu berujung lancip yang ketat di peluk genggam
mereka.Mereka betul-betul beraksi kuat dengan menyimpan sebara keberanian yang
begitu tak menghadang kenekatannya,Kalau dipikir-pikir seujung kukupun tak
berani melangkah untuk menyerahkan nyawa.
Mereka
dianggap Mati Syahid.
"Jangan
menyerah pada mereka, Tuhan senantiasa menolong kita para Prajurit" Kata
seorang pemimpin bernada tegas pada prajuritnya yang mulai menundukkan kepala
seakan tak berdaya, tetapi melihat kondisi Indonesia mau sekehendak perut
direnggut oleh pihak Jepang, Rasa Takut tertimpal oleh Keberanian EmpatLima
yang tergebu di nurani mereka, Mereka tak membiarkan orang Jepang bisa
mengacak-acak Kedamaian Indonesia untuk mempermanenkan kemerdekaan.
Surga lah
Balasan Relawan Kemerdekaan.
Saya Bergumam setelah Membaca tak sedikit dari Buku
Sejarah Indonesia, Saya rangkai semampunya untuk menceritakan kembali Peristiwa
Terjadinya perang dibawah pimpinan Bung Tomo.
Dengan Niat
Merebut kembali Kemerdekaan, Bangsa sekutu akhirnya memutuskan berkunjung ke
Tanah jawa, dan mengerahkan para Tentara kemudian Mendarat di Landasan
Surabaya, tak seorang diri melainkan dibawah pimpinan Brigjen Mallaby.
"Terus kita lanjutkan rencana ini
para tentara, Jangan takut pada respon Orang Indonesia!" Ucap Orang
Bertahta Raja bagi Sekutu itu bertekad kuat menjenjang tinggi kekuatannya untuk
mengambil alih tanah Indonesia.
"Siap!" sambut pasukannya
datar sudah bersiap dengan pasang senjata di samping pinggulnya.
Mereka pun terbang dari asal, dan Tiba
di Surabaya, Tentara sekutu itu membebaskan para Tawanannya dan melucuti
Tentara Jepang untuk siap menyerbu Indonesia. Mulailah para Pribumi Indonesia
kewalahan.
Setelah berhasil tiba di Surabaya,
sekelompok sekutu bergegas menuju Penjara Kalisosok yang menjadikan niat utama
untuk membebaskan karibnya yang larut ditahan di kurungan jeruji besi itu.
mereka memiliki semangat sebelas duabelas oleh indonesia, sama-sama bersemangat
untuk memenangkan kehendak, memberantas sekutu, namun sekutu menanamkan
tricknya yang membuat Pribumi Jawa kewalahan, dan akhirnya kembalilah perwira
angkatan laut bernama Koloner Huiyer dari balik penjara.
"Bagaimana ini bangsa Indonesia,
Apakah kita membiarkan pasukan sekutu memporak-porandakan negeri ini?"
Sang Bung Tomo kesal dan berpikir tujuh keliling demi Wilayah indonesia aman,
dan mencampakkan pasukan sekutu yang bertelatah Tamak.
"Demi apapun, Indonesia harus bebas
dari tangan sekutu!" ucap Letkol Tentara bersemangat tinggi. "Demi
Allah, Aku akan berjuang!" sahut satu pasukan beraut tajam bernada tegas,
kelihatan optimisnya." Siap!" ucap serentak pasukan Personil lainnya
mereka siap membawa diri ke hadap sekutu kelak.
Api semangat
Mulai Membara.
"Mulai sekarang pindah alih ke
surabaya, Lihat mereka sudah tiba disana!" ajak Bung Tomo jika
diperhatikan dadanya berkembang-kempis melihat aksi sekutu. tak lama dari itu,
bergegaslah para pasukam bung Tomo menuju daerah pos-pos sekutu yang berhasil
melekat disana.
Semangat yang sudah tak terkurung,
Membuat dada pribumi indonesia menggebu dan turun tangan lah mereka mengamukkan
senjata yang di kerahkan, seketika pos-pos dan daerah yang sudah sekutu
berhinggap tanpa permisi lenyap tersisa kepingan-kepingan barang yang pecah
belah.
Aksi mereka sukses tanpa hambatan
terhalang, para pemuda-pemuda pribumi kembali mempermanenkan jejak asli di
tanah surabaya, mereka girang bersorak karena puas menuntas sekutu yang
sekehendak perut.
Tak lama dari kejadian itu, Pasukan
inggris telah sekarat nyaris terenggut nyawa, Kuping sekutu tak bisa tertahan
mendapat berita itu, segera ia menghubungi Ir.Soekarno untuk memohon
menyelamatkan pasukan inggris agar selamat dari kehancuran yang larut mengamuk.
"Mohon tanggapi tuturan kami
presiden, Turun tangan anda untuk membebaskan inggris dari kehancuran yang
mencekatnya" Sekutu terus menghubungi Presiden Soekarno selekas mungkin.
Akhirnya Presiden Soekarno pun
memutuskan untuk terbang ke surabaya,
melihat Banyak orang bergerumuh rusuh bericuh sekehendaknya sembarangan
melemparkan peluru dengan senjata masing-masing, Soekarno yang tiba di tempat
itu bersama Moh.Hatta dan Amir Syaffirudin sekaligus Jendral D.C Hanwtron
berusaha menenangkan kericuhan di Tanah itu. dan mengimbaukan dengan sekepala
dingin.
"Harap Tenang semua, Hentikan Perang
ini, Hentikan senjata kalian!" Seru Presiden Soekarno tegas. "Kita
akan menyelesaikannya dengan baik-baik" lanjutnya menekatkan konsistenan.
Para sekerumunan orang itu termasuk
pribumi Jawa diam, menjedakan perang untuk mendengar utusan Sang Soekarno dan
tiga sekawanannya. suhu panas peperangan senjata itu tampak turun menjadi
dingin, namun setelah berkelanjutan hari, Pribumi Indonesia kembali panas dan
membalaskan aksi sekutu itu dan terjadilah lagi peperangan antar senjata.
30-OKTOBER-1945
Kebijakan dari Perbincangan sekilas memutuskan
untuk Terbitnya aturan perang dengan berkewajiban dilarangnya menyentuh senjata
tembak di lingkaran perang, Keputusan itu sekedip berjalan namun jadinya mereka
tak lagi mematuhi aturan itu.
"Jdor" Peluru mendarat kencang dan menembus tubuh
Mallaby, 9-November-1945 Seketika ditempat ia mengucurkan darah dan
menghembuskan akhir nafas.
Melihat makhluk luar indonesia tersasar
korban dengan peluru, Pemimpin sekutu bertempat di Surabaya Semakin panas dan
Melahirkan Ultimatum berharap agar tak ada lagi perang mengikut sertakan
senjata.
Ultimatum
itu memaparkan "Semua pemimpin
dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan
senjatanya di tempat-tempat yang telah ditentukan, kemudian menyerahkan diri
dengan mengangkat tangan"
"Batas waktu ultimatum tersebut adalah pukul 06.00 tanggal 10 November 1945. Jika sampai batas waktunya tidak menyerahkan senjata, maka Surabaya akan diserang dari darat, laut, dan udara” lanjut isi Ultimatum itu yang dicetak oleh Pemimpin Sekutu.
"Batas waktu ultimatum tersebut adalah pukul 06.00 tanggal 10 November 1945. Jika sampai batas waktunya tidak menyerahkan senjata, maka Surabaya akan diserang dari darat, laut, dan udara” lanjut isi Ultimatum itu yang dicetak oleh Pemimpin Sekutu.
Ultimatum itu
sempat terlirik oleh semua Rakyat Indonesia, Raut mereka tampak bergusah
spontan tak menerima mentah-mentah isi Ultimatum itu. Termasuk Bung Tomo hingga
menolaknya, dirinya tampak bergundah dan 10 November 1945 terjadilah perperangan
yang dibawah kuasa ia.
Berlangsunglah Peperangan.
Tidak mengandalkan peluru, akan tetapi bangsa Indonesia
hanya memainkan Sepucuk Bambu runcing yang telah didesain mungkin untuk
berharap bisa menindas sekelompok sekutu. Selama bergidik bertahan kuat yang
diarahkan semangat yang selahar, Mereka memacukan bambu panjangnya seraya
berkomat-kamit mengucapkan Asma Allah.
“AllahhuAkbar”
“AllahhuAkbar” teriak tanpa jeda bernada lantang para Pribumi Indonesia
melawan pasukan sekutu.
Terdengar hantaman keras antara bambu runcing dan seutai
pedang bak samurai memecahkan belah udara yang berdentang tanpa henti sebelum
ada seseorang yang terdampar berserah diri tak mampu lagi angkat tubuh yang
bersimpah darah, dan Darah-darah itu yang membekal mereka sebagai bukti berani
Mati Syahid demi memperjuangkan Negara dan kebaikan Islam. Kemudian Mereka yang
terbaring bersama darah yang keluar, Allah berseru di Firmannya bahwa Merekalah
yang sudah dibentangkan Surga yang tidak ada tandingannya indah dengan sejagat
raya manapun.
“Merdeka Indonesia” O
Jejak-Jejak Perjuangan Mereka yang mungkin diberanda
Surga, Hingga Senin tiba Mereka selalu diingat
“Saya terispirasi
Judul dan Alur Cerita ini berdasarkan Fakta-Fakta yang ada. dan saya jabarkan
berbentuk Cerita Pendek (Cerpen) dalam bahasa saya sendiri tanpa menyontek gaya
bahasa seseorang.(Originalitas)”
@
Mohon
Maaf Bila ada kesalahan
\
vBIODATA
PENULIS:v
Saya Bernama
Heru Suganda, saya mempunyai juga nama Pena, namun saya pakai untuk Novel
Terbaru saya Kelak.Saya terlahir di Medan 21-Maret 1999. Saya Tinggal di Purwodadi,Kecamatan
Tebing Tinggi Prov.Jambi. Saya mulai tertarik dunia tulis menulis sejak Berniat
ingin menerbitkan single Novel yang digelar oleh Penerbit Buku yaitu #LombaTerbitkanBuku2,
lama kelamaan saya ingin Terus menuntaskan karya saya dan menjadi keseharian
untuk Mengetik/Menulis. Saya sebagai pelajar,kini berumur 16 Tahun, Juga
bekerja di Frelanceer(Online) sebagai Journalist. Saya beranjak di Kelas 12
IPA.Saya juga Mendirikan FP “Cerbung Remaja Fiksi” dan Blogspot.
Facebook:Heru
Suganda (WestLife)
Twitter:
@Herusuganda03


Tidak ada komentar:
Posting Komentar