Jangan lupa baca juga..

JEJAK SURGA PAHLAWAN

CERPEN. GENRE: PAHLAWAN " Jejak Surga Pahlawan Kita " Penulis: Heru Suganda "AllahuAkbar" Begitulah lantan...

Rabu, 16 September 2015

ANTALOGI PUTRI ULAR



PUTRI ULAR (CERITA RAKYAT DARI MEDAN-DELI)
AUTHOR:HERU SUGANDA

Kecantikan jelita laksana pencaran kelopak bunga tuan putri menjelma menjadi gosip-gosip panas kian merajalela yang mengalun-alun mampir ke setiap telinga warga desa disana, bukan hanya satu melainkan dari mulut ke mulut hingga menjadi topik pembicaraan para masyarakat pada saat itu. sesudah lama para Raja dan Ratu tuan putri mengangguk ngerti akan paras putri tunggalnya , kini para tetangga kerajaan pun mengangguk salut akan kejelitaan sang tuan putri tak heran bila tuan putri tampak mempesona dengan penampilan serba ala kadarnya yang dikonon cantik, Apalagi jika dipandang dari keelokan jalannya.
Pagi berembun di sambut rekahan mentari pagi muda itu, tuan putri beranjak dari kerajaan  untuk membeli sayur imbauan sang Raja, selalu dikenakannya sarung batik jahitannya kali pertama dan sanggulan rambut yang ditata oleh sang ratu demikian cantik rupa, selain itu tidak ada lapisan tepung putih menimpa wajah cantiknya yang sudah putih. Tuan putri mulai memainkan langkah dengan jalan khasnya yang lentik.
Kehadiran tuan putri seorang diri di tepian tapak jalan, mengundang sejumlah mata bertuju pada zona tubuhnya, tuan putri menolak sehidung pendamping untuk disisinya. ia sudah bersiap berani. orang-orang rela meninggalkan kerjaan mata masing-masing demi menyaksikan langkah tuan putri, mereka terpukau, dan saling kehebohan.

"Tuan putri, datang.. lihatlah dia" sahut seorang lelaki berseragam kerajaan menatap penuh pesona pada tuan putri.
"Selamat Pagi tuan putri," sapa wanita berbalut kain batik dengan lembut keramahan.
"Selamat pagi" jawab tak kalah ramah tuan putri, dan tanpa menjeda langkah sediktpun.

Tuan putri melanjutkan tujuannya untuk ke rombongan pedagang sayur di komplek pasar kerajaan sebelah, dengan santainya ia mengayunkan kaki seraya mata yang sedikit liar ke pemandangan hijau-hijauan dan wajah bulat mentari tersenyum terasa pagi embun itu terasa lengkap, dipasangkannya mata ayunya ke langit-langit sedang mengendap cerah.
Setelah tak lama tuan putri di hamparan sejumlah pedagang, setelah itu ia memutuskan pembelanjaan yang dipesankan sang raja, dengan masih membentuk senyum di bibir yang menebar pesona, ia membalik badan dan menuju tempat kerajaan semula tempatnya berdiam bersama sang raja dan ratu.
Tuan putri tak menyadari kalau diantara banyak pasang mata terpusat penuh padanya, ada sekelompok memandanginya dengan tatapan yang berbeda, salah satunya ialah sang pangeran dari para penasehat-penasehat sejatinya, ia terpaku di atas kuda kencananya dan menyipitkan alis mata tipisnya serta bibir menganga hingga angin menyapu wajah cengangnya.

"Para penasehat itukah yang banyak dikatakan warga, dia Tuan putri?" tanya sang baginda mengalihkan tatapan pada para penasehatnya.

"Betul Baginda, Dia tuan putri, dia putri dari kerajaan sebelah" jawab serentak seluruh penasehatnya yakin.
Raja itu lagi-lagi memusatkan pandangannya bagai panah yang siap mengeker tajam pada tuan putri, wanita muda itu tak megetahui kalau sudah ada orang yang mengambil hatinya, tuan putri masih membelakangi raja yang bertopang di atas kuda yang sedikit-dikit sudah mengeluarkan ringkikan kecil. sang raja dan para penasehat pendampingnya sedari tadi berpaku di balik pohon berjulang semak-semak yang hadir kembang-kembang menari disana.
Setelah lama sang raja menerawang di arah jalan tuan putri yang baginya masih membekas meskipun sudah lenyap ditelan langkah. ia masih berlamun dan berangan-angan ada seorang permaisuri baru yang dirindukannya untuk pendamping hidupnya. ia masih berpikir panjang andaikata dapat mempelai tuan putri hingga naik ke singgasana pelaminan kelak.
Raja itu mengambil pendapat, bagaimana kalau saja ambil tanggapan dari sang penasehat-penasehat sejati dirinya,
"Hai, Para Penasehatku yang kuhargai, bagaimana kalau saya ingin menanyakan hal penting ini pada kalian semua, bagaimana?" tanya sang raja mulai menjelajahi satu per satu wajah sigap para penasehatnya yang berdiam tegak di hadapannya.
"Raja yang kami hormati, Silahkan Baginda tanyakan apapun pada kami, pasti kami siap menjawabnya!" balas serentak para penasehatnya itu telatah siap merespon ucapan sang raja mereka.
"Terimakasih penasehatku, Sebenarnya saya ingin mengungkapkan hal tadi pada kalian semua! saya harap kalian mengerti rasa hati sang raja kalian" terang raja itu tegas, tapi di hati bertentang dengan perasaan yang malu-malu. entah apa raja itu mensuguhkan senyuman mendadak pada para penasehatnya. seketika para lelaki penasehat itu masih datar seraya menyimpan sebuah pertanyaan.
"Siap Maha Raja. Tumpahkanlah Isi Hati mu pada kami dahulu" jawab serentak penasehat itu.
"Bagaimana menurut kalian tentang tuan putri barusan tadi? Jawablah para penasehatku!" tanya berseru sang raja itu, hatinya mulai mendadak antusias meyakinkan jawaban elok dari para pendamping setianya itu.
"Tuan putri adalah gadis cantik jelita yang merupakan putri tunggal dari kerajaan tetangga kita Baginda, Bukan hanya warga tapi kami pun terpesona padanya" jawab salah satu penasehatnya itu.
"Betul Baginda!" seru serentak penasehat lainnya ikut meyakinkan salah satu temannya itu. sang raja pun mengangguk manis dan bibirnya menampilkan kekayaan senyuman tipis.
"Bagaimana Jika Baginda akan menjadikan tuan putri sebagai permaisuri, Bagaimana menurut kalian para penasehatku?" tanya raja optimis.
"Itu ide bagus Baginda, Kami pun sudah berpikir demikian" jawab satu penasehatnya.
"Tuan putri sosok wanita yang cantik mempesona, kan cocok dengan Raja yang tampan dan gagah" sahut penasehat bergantian.
"Betul MahaRaja!" Sorak serentak penasehat yang belum melontarkan jawaban tadi.
Sang raja bergulir menatap penuh pada tujuh pemimpinnya itu seraya berpikir sejenak untuk mengutuskan pendapat setelah memakan tanggapan dari para penasehat sejatinya. sedemikian mencerah antusias dirinya akan tapi hatinya berkembang kempis malu. tak berapa lama sang raja pun berdehem keras.
"Kalau begitu, saya harap para kalian dapat menuntaskan rasa hati Raja kalian" ucap raja itu tegas, membuat para penasehatnya menjadi mengernyit.
"Bisakah para penasehatku?" tanya raja itu seraya kurang yakin pada mimik penasehatnya itu.
"Bisa Baginda!" serentak keras memecah bak udara para penasehat itu.
"Tenang Baginda. Kami sebagai pendamping sekaligus petunjuk pasti bisa menyelesaikan permasalahan hati Baginda, iya kan para teman?" terang salah satu penasehat agak tinggi itu kemudian memberikan simbol iya pada penasehat lainnya.
"Betul itu!" sontak penasehat lainnya.
"Terimakasih penasehat sekalian petunjuk yang kuhargai, Kalau begitu marilah kita ke kerajaan tempat tuan putri berada!" Ajak sang raja kemudian lekas menunggangi kudanya dan sesegera diikuti oleh para penasehat lainnya.
***
"Terimakasih putri sudah mau membelikan pesanan Ayah lagian Ayah salut akan keberanianmu keluar tanpa seorang pendamping" ucap salut sang MahaRaja di bangku singgasananya setelah menerima bingkisan plastik berisi sayuran dan segera tuan putri ikut duduk di kursi empuk sebelahnya.
"Baik ayah, putri sangat senang dengan tanggapan baik ayah" balas tuan putri, keduanya saling melempar senyuman.
"Kalau begini ibu bisa membuat masakan berbeda kali ini, putri" sambut sang ratu kemudian ikut duduk sebelumnya mengambil bingkisan putih dari tangan raja lalu ikut duduk disebelah putri kesayangannya.
"Setuju ibu" jawab singkat tuan putri kelihatan mata lentik berbinar gembira.
Sekian lama mereka saling bertukar pandang, saling tertawa di lingkaran kedamaian di ruang berkeliling tembok bata itu dan sedikit sebercak cahaya menyergap masuk mengarah ke wajah masing-masing. datanglah pengawal gerbang dua lelaki dengan tampang tergesa bak diburu hantu, satu orang itu menghampiri raja dan menjeda langkah dibibir bentangan tikar merah lebar yang disana zona kenyamanan ketiga orang itu.
"Maha Raja Yang Terhormat, Ada seorang meminta izin kepada Raja untuk dapat menjumpai Raja sekarang" ucap seorang pria tegap itu disela nafas agak terburu sempat mengisi perkataan, setelah itu keheningan terpecah.
"Siapakah orang itu pengawalku? Bagaimanakah penampilannya?" tanya sang raja masih dalam senderan kursi tingginya. tuan putri fokus bertatap pada raut pengawal itu.
"Orang itu berpakaian kerajaan, Maha Raja . mereka tidak hanya satu melainkan serombongan " jawab bernada cepat pengawal itu masih dalam lututannya di bibir tikar lebar.
Sang Raja tersontak tak kepalang mendengar tuturan pengawal kerajaan , Ia pengawal sudah lama berdiam di sebuah kerajaan tuan putri itu, mana mungkin dirinya akan mengkelabui sang raja beserta Ratu dan Putri cintanya yang ada dihadapannya kini. sang  raja lalu bangkit berposisi tegak menghadap lurus pengawalnya itu.
"Tunggu pengawalku, bilang saja saya akan datang sebentar lagi" sang raja mulai gerusuh.
"Siap raja!" tegas pengawal itu dan segera beranjak menuruti perintah sang raja.
Setelah pengawal yang mengantarkan berita mendadak itu menuju beranda kerajaan megah tempat kini mereka berpijak, sang raja mendahului datang untuk membongkar rasa penasaran, dan disana nyaris menabrak pengawal yang akan kembali mengabarkan jawaban para rombongan berbalut kerajaan itu. sementara tuan putri membuntuti sang Ayahnya yang mereka bergusar penasaran.
"Selamat Pagi MahaRaja Kerajaan, Semoga dalam keadaan baik-baik" sahut cepat satu orang dengan cepat.
"Selamat pagi MahaRaja" sambut enam orang lainnya serentak.
Sang raja yang dimeriahi sambutan manis menjadi terperengut heran merespon kepelikan ini, sebelumnya nyaris bertahun-tahun rombongan kerajaan sebelah tak menghampiri kerajaannya entah itu hanya berjamu atau bertamu untuk melepas kepenatan dan menjalin keakrapan satu sama lain.
"Terimakasih atas kebaikan kalian, Sekarang ada apa keperluan kalian dan siapakah kalian?" tanya tegas raja memperhatikan mimik silih berganti penasehat itu.
"Maafkan kami Maha Raja. sebenarnya kami adalah utusan Baginda kerajaan kami yang ditujukan untuk bertemu Raja!" jawab salah satu penasehat itu sedikit tertunduk.
"Saya sangat senang dengan itu, Kalau memang demikian, silahkanlah kalian ungkapkan apa tujuannya" sang Raja mendalami wajah para pengawal kerajaan itu, kini dugaannya benar jika serombongan kaku itu berasal dari kerajaan tetangga.
"Sekali lagi terimakasih MahaRaja, kami sangat senang dengan ucapan Raja, dan bolehkah kami berbicara masalah Topik Putri MahaRaja?" ucap satu pengawal agak tinggi itu yang terlihat dingin untuk menghadap Raja
"Maksud anda Putri saya?" tanya Raja itu memperjelas mengernyitkan dahi tuanya.
"Maafkan kami raja, sungguh itu yang menjadi tujuan kami datang kemari!" jelas satu pengawal agak pendek.
Sang raja pun duduk di singgasana tingginya dan dihadapannya sudah terjejer para pengawalnya yang dipersuruhnya untuk disitu. dan kedatangan sopan mereka disambut lebih ramah oleh Sang Ratu disuguhkannya Jamu-jamu hangat dan mulailah para penasehat utusan Raja kerajaan Muda sebelah itu mengungkapkan rasa amanah dari Raja baginda mereka.
"Begini raja, Sebenarnya ini tentang isi hati dari sang Raja kami" ucap satu pengawalnya bernada lembut penuh hati-hati.
"Iya Maha Raja"Sahut serentak penasehat lainnya.
Sang raja pun tampak berfokus untuk sibuk memaknai penuturan tetamu penasehat itu, setelah lama ia berfikir membayangkan Tuan Putri, dilihatnya sekitar tempat,  Putri tunggalnya tidak munculkan hidung, lelaki kuasa Raja itu pun tampak siap mengeuarkan bicara.
"Baiklah kalau itu tak menentang aturan kami, permintaan kalian saya persilahkan!" ucap sang raja telatahnya berbinar wibawa.
Para penasehat itu pun tampak terdiam merespon ketegasan sang raja kerajaan itu. perlahan diantara mereka saling memberikan kode wajah kepada penasehat lainya untuk siapa yang sudi melontarkan tuturan sang raja mereka. dan tampak penasehat agak tinggi itu yang sanggup angkat bicara.
"Maafkan kami raja, baginda kami sedari dulu sangat mencintai tuan putri, dan disini dia menyuruh kami untuk menyampaikannya pada raja"ucapnya menjaga getaran tubuh agar tak bergusar getar dihadapan sang raja.
Raja itu mengalihkan pandangan sesukanya seraya berfikir panjang apakah sudi mensetujui permintaan para penasehat itu. dan dia berpendapat andai kali ia menolak isi hati raja mereka dan mungkin akan terjadi perang kali pertama, sang raja bergidik ngeri. dan kebetulan ia ingat perkataan sang ratu kerajaan.
"Kapankah kerajaan kita menjadi kuat baginda, kuat! itu bisa dilakukan jika ada persatuan khusus dengan kerajaan lain!" tuturan sang Ratu berputar di kepala raja di dalam gemingannya. Kebetulan Ratu menghilang cepat segera ke Dapur Kerajaan.
"Bagaimana MahaRaja, A.apakah bisa?"Tanya penasehat agak tinggi itu  setelah lama bergetar sembari berfikir aneh. sekuat tenaga menahan kegugupan sedikit.
"Kebetulan Tuan Putri juga mencintai sang Raja kalian, Ku rasa akan lebih baik hidupnya jika Didamping seorang Raj a" ucap tegas raja, mendengar itu wajah datar para penasehatnya berubah menjadi binaran laksana mentari menyambut kembang mengembang.
"Betulkah raja, Memang betulkah Tuan Putri dapat dipinang oleh Raja kami? kalau begitu kami sangat berterimakasih MahaRaja" ucap lancar penasehat bertubuh sedang, diikuti oleh segerombolannya berbinar segar.
"Saya sangat sudi bila perlu segerakan Pernikahan dengan cepat, karena kerajaan akan lebih kuat dan megah jika dilangsungkan cepat, dan membuat Negeri ini menjadi makmur" ungkap raja itu, bibirnya lebar menipis wibawa.
"Terimakasih MahaRaja, tapi ada satu hal yang mungkin tak sesuai dengan kehendak sang Raja kami" ucap penasehat tinggi, dirinya sudah tak lagi digelitiki ketakutan.
"Apa itu para Pengawal Kerajaan?" tanya Raja itu bangkit dari wajah binarnya.
"Maafkan kami raja, Pernikahan akan bisa dilangsungkan sekisar Dua Bulan lagi, ini langsung kata Raja kami"
"Apa? kenapa hingga Begitu Lama, Pasti Tuan putri akan bosan menunggunya" ucap raja mendengus nafas sebal.
"Maafkan kami raja, Dikarenakan ada persiapan khusus untuk mengadakan pesta pernikahan sebesar-besaran, jadi raja akan mempersiapkannya dengan semeriah mungkin itu tidak cukup hanya waktu yang sebentar" papar satu pengawal dengan mengangkat sedikit tatapan yang terasa berat.
"Kalau begitu, Bisakan secepat mungkin! Jangan menunda-nunda acara pernikahan, Kalau bisa cepat kenapa tidak! tuan putri juga menyukai pernikahan serba apa adanya, jadi jangan berlebihan" tegas sang raja, menggulum bibirnya sedikit menyimpan kesabaran.
"Maafkan kami MahaRaja, tanggapan Raja nanti akan kami sampaikan pada Raja kami" ucap berat satu pengawal.
"Ingat para pengawal kerajaan, Tidak baik untuk menunda-nunda yang seharusnya sudah siap dilaksanakan, dan saya berharap tak ada kejadian nanti yang membatalkan pernikahan baginda dan tuan putri, jadi, secepatkanlah pernikahan" raja itu tampak gerusuh menyabarkan lubuk hati.
"Siap MahaRaja" sorak serentak para pengawal.
Setelah hingga menyita waktu Raja untuk menanggapi para pegawal-pengawal kerajaan sebelah itu yang mengantar informasi mendadak, dan menikmati jamuan yang di ramu selezat selera oleh sang Ratu Ibu Tuan Putri, Raja itu berkeputusan tepat mengatakan tuan putri mencintai raja kerajaan sebelah didepan itu tuan putri tak mengetahuinya karena jaraknya begitu tak dekat dengan beranda kerajaan, Jadi alunan pembicaraan mereka tak sampai di daun telinga Tuan Putri.
Para pengawal itupun berpamit sehormat mungkin pada raja kerajaan yang dihinggapi mereka demi menyampaikan amanah dari raja mereka yang tegas, Rasa Malu yang terselubung dilubuk hati Raja Tetangga itu sehingga di kerahkan pihak kedua untuk menyampaikan isi hatinya kepada tuan putri. dan segerombol pengawal itu beranjak lembut seraya meninggalkan beranda kerajaan itu.
Setelah kosongnya kursi beserta meja Makan besar itu, Raja segera kembali ke tengah kerajaan dan dilihatnya ke segala penjuru ternyata Tuan Putri tak berniat sedikitpun tahu pada siapa tetamu yang menanyakan kepentingan kepada sang ayahnya. Raja itu mengayunkan langkah dan tuan putri sudah berbaring manja di kasur singgasananya.
"Putri kenapa tak sedikitpun dirimu nongol nak, Apa kamu tidak tahu siapa yang barusan menghampiri kerajaan kita?" tanya raja itu seraya duduk di bibir tempat tidur bambu coklat mengkilap tempat zona tidur putrinya itu.
"Maksud ayah? Kenapa aku harus memunculkan kehadiran di urusan ayah itu, Aku tak mengerti maksud ayah!" ucap bernada bantah putrinya itu, yang sibuk menata bantal manja nya, ia sibuk pada langit-langit kamar.
"Ayah kasihan lihat kamu selalu menyendiri tanpa di temani seseorangpun, Jadi sekarang Dua Bulan lagi kamu tidak bakal sendirian lagi.
"Raja Kerajaan tetangga akan Meminang kamu nanti, di usia muda mu sekarang sudah pantas untuk menikah" ucap Raja itu sembari bibirnya mengembang lebar.
Tubuh tuan putri seakan kesetrum bak tegangan 100 volt, dirinya tak menyangka jika diam-diam ada yang sudah memintanya meskipun banyak berbagai hati sudah jatuh cinta pada dirinya, putri membiarkan mulutnya ternganga lebar sambil menatap dalam mata ayahnya itu yang kemudian tegak berdiri.
"Kenapa ada yang tidak beres? Masalah pernikahan semua sudah dominasi oleh pihak raja, jadi tinggal putri yang membereskan diri? mengerti?" pungkas raja itu seraya tersenyum tulus dan meninggalkan bilik kamar tuan putri.
"Tunggu ayah! berikan lebih jelas lagi kepada putri!" mendengar suara itu sang raja mengerem langkahnya yang akan menuju keberanda kerajaan.
"Apa yang kurang jelas putri, Kan sudah ayah bilang kamu akan menikah dengan Raja kerajaan sebelah, paham?"
"Mau tidak mau, kamu bersedia kan mencintai sang pangeran itu? dia sudah sangat mencintaimu putri!" ucap raja itu penuh keantusiasan karena perencanaan yang seolah sudah bulat pasti terjadi, dibenak sang Raja Kekuatan Kerajaan akan bergabung hingga menyatu kuat, Ayahnya melebarkan senyum, hingga mulut tuan putri berkomat-kamit tergagal mengeluarkan bicara.
"K.kenapa ayah mengharuskan putri untuk siap mencintai Raja itu?" tuan putri terbata yang sedari tadi matanya membulat penuh pada wajah Ayahnya , sedikit-dikit muncul kecurigaan memutar dikepalanya.
"Kenapa sayang, Buanglah rasa khawatiran kamu, Kamu tahu pangeran yang begitu tampan, gagah, berwibawa dan pemimpin kerajaan penuh kesentosaan, serta dia sangat jujur.
Sang tuan putri membelalak datar hingga tanpa sekedip kelopak mata menyaksikan tuturan raja.
"Masih ada yang tak berkenan lagikah,.... Tuan Putri?" tanya lembut sang raja pada wanita merupakan putri kandungnya. setelah lama hening mencekat. rajapun melenyapkan diri dari kamar itu.
Tuan putri pun membaringkan diri di singgasana empuknya itu seraya menerawang jauh merayap ke langit-langit kamar. membayangkan seorang pria berjabat raja disebuah istana kerajaan dan ditambah kegagahan wibawanya. tuan putri semakin menjadi-jadi memanjakan dirinya di kasur lembut sutra itu.
Tak lama ada rengekan pintu membuka kamar tuan putri, lalu nongolah sang Ratu bersama bibirnya mengembang lebar sambil tangannya yang tak kosong, menggenggam segelas jamu hangat, ia menjalankan kaki pelan-pelan karena takut air tepercik jatuh.
"Ibu, Apakah ibu sudah tahu siapa tetamu yang tadi datang?" tuan putri menyambutnya lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Ratu sebagai ibu kandungnya itu mensuguhkan senyuman Mantap.
"Minumlah Jamu ini Sayang, sebagai stamina kamu, teguklah dulu jamu manis ini,akhir-akhir ini ibu lihat kamu seperti sakit!" ratu itu sangat prihatin dan berbicara lembut pada putri cantiknya.
"Tapi semenjak hari ini, wajahmu begitu mengalahkan senja mentari, ibu tahu apa yang kamu angankan!" mendengar tuturan ibunya itu, wajah Tuan Putri bangkit menjadi berkalilipat keceriaan.
"Apa? jadi ibu sudah diberitahu ayah? kalau begitu bagaimana tanggapan ibu?"  tanya tuan putri berharap ratu itu meyakinkan hati optimisnya.
"Sudah, Bahkan sebelum para pengawal itu hinggap di istana ini. Tapi ada satu hal yang ibu kurang yakin padamu, putri" menyebut itu raut Ratu bernyengit.
"Apa itu ,ibu?" lalu tuan putri meraih gelas berisi jamu hangat itu, dan meneguknya hingga masuk ke tenggorokan keringnya dan menaruh gelas itu, wajah mereka saling terperengut heran.
"Apakah kau tulus sebagaimana tulusnya hati pangeran itu, Apa kau betul-betul cinta pada dirinya, Jawab yang jujur Putri!" tanya tegas sang Ibunya itu, mengalihkan tatapan dalam pada wajah putrinya itu, mendengar itu tuan putri merespon pada pipinya yang merah kemudaaan dan tersenyum tipis yang mungkin tak dapat disimpan, telatahnya begitu malu-malu.
"Hm, Kalau ibu menyuruh putri berkata hati, maka, hm. putri sudah lebih dari yang ibu sangka, lebih dalam menjelajah hati sang Raja itu" tuan putri terselimuti rasa malu akan mengungkapkan sebenarnya, hingga telatahnya berubah lasak tak karuan dihadapan ibu ratu itu.
"Kamu sudah membetulkan hati ibu, sayang. ada yang harus kamu ingat, putri. dan ibu sudah tahu sifat pangeran itu, dia adalah orang yang serba menerima apa adanya, lihat adik pangeran itu adalah seorang wanita lumpuh berjalan, dan hatinya tetap akan menyayangi saudaranya itu, kalau sudah tulus mencintai, pasti tak ada segalanya yang menghalangi, putri" tutur lebar sang ratu itu dengan penuh kelembutan, dan prihatin pada wajah sang putrinya itu.
"Itu Adiknya ibu, sekarang inikan adalah putri. baiklah ibu apakah masih ada rasa yang kurang berkenan atau kurang cantikkah putri,hah ibu? dan apakah ibu senang jika Putri kelak Menikah pada Raja Kerajaan?" tanya Tuan Putri.
"Oh tentu sayang, asal kamu tahu kalau sudah tetap cinta pasti betah ala kadarnya, dan kamu tidak usah berputus asa dulu ya menunggu berlangsungnya pernikahan,karena akan digelar dua bulan mendatang" jawab sang Ratu begitu lembut dan sedikit tersontak.
"Tahulah Ibu" jawab datar tuan putri , lalu ratu itu menyudahi pembicaraan itu karena mendengar suara yang bergelitik tak bersahabat ditelinga di beranda istana. sebelum melenyapkan langkah Ratu meninggalkan seberkah senyuman tiada tepi pada putri kesayangannya itu sampai menghilang di ambang pintu. tuan putri beranjak menuju bingkai jendela sambil mengedarkan pandangan keluar membawa keantusiasan luar biasa.
***
"Siapakah yang menangis-nangis bising tadi pengawal?" tanya tuan putri menghadap lelaki pengawal itu, wajahnya begitu penasaran akan seorang wanita yang terisak-isak di tepi jalanan itu, sepertinya suara asing itu yang membuat Ratu cepat meninggalkan pembicaraan dikamar tadi, lama kelamaan suara itu lenyap seiring hilangnya seorang wanita muda sambil menutupi wajahnya yang bercucur darah segar berlari kencang.
"Baik tuan putri, dia ialah sedang kemalangan di taman itu karena tersungkur batu sebab girang meloncat-loncat hanya karena pernikahannya direstui kedua orangtuanya, lalu malah sebaliknya, melihat kondisi pasangannya,calon suaminya itu marah dan memutuskan hubungannya" terang Pengawal itu.
"Apa? Sebegitu teganya dia? memutuskan orang yang hanya karena terluka begitu? sungguh kejam! dan bodohnya wanita itu. Mengapa ia tak bunuh diri saja." ketus tuan putri menanggapi kasus itu dengan celotehnya yang tanpa berfikir panjang. Mendengar ketusan tuan putri yang sangat membentur keras ditelinga caplangnya itu. sang pengawal itu hatinya berpanas bak air mendidih.
"Perkataan mu itu bagus putri, Tajam! Sebegitu tajamnya seekor ular memencrotkan bisanya!" lontar pengawal itu tanpa segan.
"Kasihan ya dia, bagaimana pula bila putri terjadi begitu, Mungkin akan bunuh diri, dan sebelumnya membunuh  lelaki bangsat itu!" ucap Tuan putri rautnya memeragakan kesedihan. Sang Pengawal itu langsung menggertaknya.
"Diamm Putri! Tak baik bunuh-bunuhan, Ada baiknya kan bila saling maaf saja"
Lelaki berbadan tegap itu merapatkan bibirnya hingga terdengarnya sendiri gertakan gigi tanpa permisi, tak seperduli mana dirinya mendengar kabar tuan putri yang akad nikah dua bulan esok, karena celotehan tuan putri yang tak begitu sepantasnya dirinya menghiraukan sosok wanita malang itu dengan menyuruh bunuh diri.
"Kamu betul-betul tak tahu diri putri, aku rasa jika wanita itu mendengar ucapan bisa mu, pasti ia tak segan menampar wajahmu hingga bengkak!" sergah pengawal itu, berkobar panas batinnya sampai tak sedikitpun peduli rasa segan pada putri raja kerajaan itu, walaupun dirinya hanya pengawal yang bekerja di istana.
"Siapa yang mengajari kau berkata seperti itu putri, segera bertaubatlah atas perkataan kurang ajar kau itu" tambah pengawal itu.
"Siapapun tak akan memarahiku, camkan itu" bantah keras tuan putri menjadi memanas.
"Raja dan Ratu yang merupakan orangtuamu pasti akan menyergakmu habis-habisan, apa kau ingin aku yang menyampaikannya?" tanya pengawal itu, dengan dadanya yang terpompa cepat oleh suhu yang panas didalamnya. seketika mulut sang putri menganga bulat. membayangkan bagaimana hancurnya jika harapan optimis kedua orangtuanya menjadi Berantakan karena ucapannya bocor.
"M.maafkan aku pengawal, Aku s.salah. ja.jangan sampaikan kejahatanku itu pada Raja dan Ratu" ucapnya,  tubuh tuan putri setengah nyaris tersimpu di hadapan pengawal yang jaraknya tak begitu dekat.
"Sudah, janganlah kurang ajar, kalau begitu, mengerti?" tuan putri hanya mengangguk sekilas lalu meninggalkan tempat dihadapan pengawal itu seraya membawa perasaan campu aduk serta kejenggelan amat menjulang.
***
Bagian Dua.
Sejak memperoleh kabar gembira dari sang Raja tentang akad pernikahan yang rencana digelar dua bulan esok, Tuan Putri berbinar antusias hingga terus memaknai sebabnya sangking  tak percayanya, optimis mendengar penuturan mendadak ayahnya itu, kini Raja baginda sudah membulatkan tekad ingin meminang menjadikan tuan putri sebagai permaisuri dambaannya dan lancar mengirimkan surat sewaktu lengahnya pekerjaan, hingga sampailah sepucuk itu surat itu di tangan tuan putri melalui sang pengawal istana.
"Inilah cinta kita tuan Putri, ingatlah tingal seminggu lagi pernikahan kita"
Tuan putri membacanya penuh keharuan pada diri sendiri karena tak dapat menjumpai sang pangeran tampan itu, tak hanya gagah nan Tampan, melainkan ia ikut merasakan bagaimana pekerjaan sang anak buah istananya, ikut bekerja dengan penuh kesentosaan, betapa rindunya batin terbendung kuat, tak dapat dipisahkan, Hanya mentari senja yang menemaninya di beranda istana serta kicauan burung sahut-menayhut bertengger di ranting pohon beringin berkicau menenangkan hatinya.
Suatu hari, Siang yang harusnya mentari merekah namun kondisi sewaktu itu tak cerah sebiasanya, tuan putri persiapkan diri untuk bermanjaan di tepi sungai sesuai hobi pribadinya, di balutkannya kain yang menutup ketat hingga tepian atas dadanya. menurutnya sangat pantas untuk bersolek di bibir sungai itu. tapi ketika tuan putri membuka daun pintu, Sang Raja menangkap pundaknya tepat mereka berpapas di ambang pintu.
"Nak, kata ayah sebaiknya kamu istirahat dulu ya, dan beraktivitas di sekitar di teras rumah aja ya sayang?" Imbau ayahnya lembut penuh keprihatinan pada putri tercintanya itu.
"Ayah, tidak usah banyak khawatir, putri bisa menjaga diri baik-baik,  mengerti ayah?" jawab tuan putri menentang anjuran baik sang ayah.
"Tidak putri, baginda pasti akan lebih suka jika kamu di rumah merawat penampilan dan belajar memasak memanfaatkan waktu untuk di dapur" tukas ayahnya tetap bersikeras melarang tuan putri enggan beranjak keluar.
"Biarkan saja aku ayah, Cengkunek itu bisa dikerjakan nanti dan kalau ayah sayang putri pasti akan mengizinkan putri untuk bersenang-senang kan?" pungkas tuan putri bertatap tak hirau, melepas cengkraman sang ayah yang berimbau melarangnya hendak menginjak kaki di luar perkarangan rumah.
Sang ayah hanya membuka lebar membulatkan bibir melihat tuan putri keras kepala pada anjurannya, semakin lama menatap tuan putri berlari riang menuju entah kemana, semakin batinnya berprasangka tak mendukung pada kenyamanan, ayah terus bergelisah tak sedikitpun raut kode mengizinkan wanita putri kesayangannya itu terpancar mulus, ia terus menatap depan seraya menggelengkan kepala.
Setelah menolak mentah-mentah ajakan ayah supaya merawat diri di rumah, Kini tuan putri tetap cuek dan dirinya melangkah semangat dan duduk di batu yang terdampar disungai dengan hati-hati, Mulailah ia terpancing dengan air yang deras mengalir seakan menggoda cepat untuk mensergap air kian jernih di cemplungkannya tangan merasakan kesejukan air bening itu dan tak berapa lama ia menududukkan diri di atas permukaan batu yang menopang dirinya untuk tetap waspada di zona wilayah batu kecil itu.
"Hai para-para ikan, pasti kalian senang kan aku datang di wilayah kalian? sekarang aku ingin memberitahukan kalian akan isi hatiku" tanya girang tuan putri menyapa hewan itu sendirian tanpa seorangpun ada disisinya.
Sekumpulan ikan-ikan yang lasak di bawah permukaan air itu menggelitikkan kaki putih tuan putri yang sengaja dicemplungkannya, dirasakannya air menyetrumkan kesejukan ditambah ikan-ikan hias yang ikut berbinar bahagia di sekeliling pasang kaki tuan putri. wanita muda itu menyebarkan senyuman tulus pada ikan-ikan yang bermanjaan di air bening disana.
Ada satu hal yang tak terbesik di pikiran tuan putri, ia sama  sekali tak menduganya jika ada seseorang sedari tadi memasangkan pasang mata sedalam bak pisau runcing tersohor ke badan cantik tuan putri, tatapannya mulai nakal dan tersenyum-senyum seorang diri di balik julangan tinggi semak-semak serta sebatang kokoh pohon besar menutupi badannya. dia adalah kedua dayang utusan Sang Baginda Istana.
"Selamat berbahagialah calon istri Raja, Baginda pasti akan senang jika melihat tulusnya putri tak sabar menunggu pernikahan" ucap lirih seorang pria berpakaian kerajaan itu, yang merupakan utusan sang raja kerajaannya untuk memantau tuan putri menjelang akad pernikahan besar berlangsung.
"Hai Para ikan hias yang cantik, kalian tahu jika seminggu lagi aku akan menjadi permaisuri seorang pangeran yang gagah dan tampan" ucap tuan putri sambil menggenangi tangannya menyenggol beberapa ikan yang menemani heningnya damai di damparan batu sungai deras itu.
Ikan-ikan berukuran lengkap ada kecil hingga besar itupun menyibak-nyibakkan ekornya sampai tepercik ke wajah manis tuan putri, tuan putri hanya merasakan kenyamanan luar biasa dengan respon hewan air insang itu.
"Kali ini putri akan mandi, setelah sekian lama kita tak mandi bersama para ikan" seru tuan putri semakin girang dan dia sangat tak mengetahuinya jika ada mata memantau tingkah anehnya. kini ada sepasang mata lagi mampir untuk memperhatikan pelik putri raja yang belakangan ini mendapat kabar kebahagiaan.
Ketika kaki tuan putri bersedia melangkah hati-hati, serentak itu suara bergemuruh berhambur bersahutan, karena spontan tuan putri berespon tegak kaku terdiam di berdirinya dan mengangkat kepala menatap langit yang awan yang putih bersinar berubah menjadi keabu-abuang serta langit yang birunya memudar. terlihat dalam gemingan tuan putri, sekumpulan awan berlomba adu cepat melintasi atas kepala tuan putri dan suara gemuruh seakan mengusik telinganya dan mengusik kedamaian sebentar.
"Kenapa Mendung, Kenapa?" lirih kesal tuan putri, melihat cuaca tak elok pada keinginan dirinya, ia berkeputusan untuk angkat kaki dari atas batu itu dan meloncat siap melangkahi antara derasnya air dan bibir sungai.
Namun, Kejadian tak serupa pada tekad hati malah terjadi, tuan putri tak sengaja kakinya yang basah bekas mencemplung ke air sungai melumuri permukaan batu itu hingga becek dan terjatuh sampai membentur ranting yang baru saja jatuh disebabkan angin berkecamuk lebat yang menghadang di tepian sungai. disana tuan putri merasakan kekejangan yang sungguh menusuk bukan kepalang.
" To.toloong aku" AAAAAA. Tuan putri menjerit sekuat pita suaranya dan wajah ayunya terbenam di tanah becek setelah terlempar dari menghantam sebatang ranting pohon.
Suara teriakan rintih tuan putri terdengar mengkasihankan, Para dua orang utusan kerajaan yang merupakan dayang larut menajamkan mata sedari tadi harus segera cekatan menolongnya namun tubuh tuan putri menghilang ditempat suara jeritannya tadi, tuan putri malah terjatuh karena merasakan tubuhnya sempoyongan hingga terseret oleh arus sungai deras.
"Dayang, kejar tuan putri, cepat! ia terhanyut ke arus sungai sana!" teriak keras satu dayang tubuhnya gelisah bagai cacing kepanasan mengkhawatirkan tuan putri.
"Ya Ampun. Kenapa bisa? Cepat! Kau tahukan sebentar lagi ia akan menikah" sang dayang kedua memutar balikkan matanya mengedar segala penjuru hutan dan pelosok arus sungai, berbanding sama kekhawatirannya akan tuan putri yang lenyap ditelan sungai.
Kedua dayang itu terpontang-panting tak karuan hingga bingung memulai jejak pencarian kemana, satu dayang pun berarah ke lurusan arus sungai, sementara dayang kedua masih berfikir menjelajahi semak-semak yang berjulang tinggi sebadannya.
"Tugas kita gagal memantau sang tuan putri, kalaulah sampai tuan putri tak kunjung ketemu maka siaplah memakan hukuman berat-berat dari MahaRaja dan MahaRatu" celutuk gelisah dayang kedua, dadanya bergempa berat sambil menjelajahi belukaran semak-semak dan balik pohon besar.
Disana tuan putri tak dapat memberhentikan derasnya arus sungai yang berberisik kuat menjerit-jerit, tubuh tuan putri bagai daun talas yang dicemplungan ke aliran kali, hingga tak dapat mengendalikan diri, arus kian deras bergejolak itu yang seakan marah besar akhirnya menghantamkan tubuh tuan putri ke  ranting yang membentang seperti jembatan kucing untuk lewat.
"Bruaak"
"Tolooong.. AAAAAh" melengking jeritan histeris tuan putri dan tangannya yang sepoy menarik ranting kokoh itu dan tak terpikirnya sebercak darah yang seenaknya keluar tanpa izin, tuan putri hanya memikirkan nyawanya yang berujung di tanduk runcing.
"W.aajahku, Oh k.kenapa darah ini... banyak sekali di wajahku" Tuan putri berseduh isak di nafas menggebu-gebu dahsyat itu dan mulailah sebening air mata bercampur dengan darah merah segar di pipinya.
"KENAPA!" histeris tuan putri akhirnya tersimpu lemah di damparan tempat yang tak diketahuinya itu.
"Ya Tuhan, wajahku dan kenapa dan m.ana cermin" ucap tuan putri bergelimang air mata dan di topangnya tubuh yang tak berdaya untuk berdiri dan sekarang ia langkahkan kaki teringsut menuju tepian sungai yang kini setengah deras.
Tuan putri menaruhkan bayang-bayang wajahnya di permukaan air yang sedikit tenang itu yang tak sempurna jelas layaknya kaca, tampaklah hidungnya yang sebelumnya cantik mancung kini menjelma tanpa segan menjadi hingang sebagian, paruh hidungnya yang tegak normal berubah sompel jelek.
"P.pernikahank.ku, pernikahanku akan batal, mana mungkin sesosok jelek ini akan naik ke mimbar singgasana pelaminan kelak.
"M.Matilah aku, Sungguh aku telah mendustai perjanjian ini pangeran, aku sudah mendustakan pernikahan, Cinta suci kau sia-sia pada diriku.Hanya karena Iniii.." jerit sekuat tenaga pita suara tuan putri, hingga bergetar kerongkongannya untuk mecetarkan suara bak halilintar memecah keheningan udara, sampai menggema di hutan belantara itu. digenggamnya hidung kini tak senormal biasa itu hingga telapak tangan putihnya berlumur darah segar diiringi tetesan air mata penyesalan.
Awan-awan mendung yang dari tadi menunggu persetujuan langit untuk menumpahkan titikan-titikan airnya kini turun deras menyirami daratan hingga tubuh tuan putri banjir dan seketika wajah berselamak darah itu bersih disibak oleh air langit itu. Tuan putri hanya membiarkan tubuhnya tersimpu di tanah becek sejauh tepian sungai itu dan hanya fikiran negatif saja menghantui pikirannya. dengan rasa pikiran yang buntu, tuan putri menadahkan kedua telapak tangan di bawah terpaan air hujan deras itu seraya mata yang berkaca-kaca.
"Ya. Tuhan... Segerakanlah hukuman untuk hambamu yang dusta ini, Hamba tak ingin mata kepala Raja dan Ratu serta Baginda melihat penampilan jelek ini, jauhkanlah hamba dari mereka yang baik-baik dan beramanah, bila perlu Ya Tuhan,... Lenyapkanlah diri ini dari muka bumi ini, sungguh putri tak pantas hidup di bumi baik ini" ucap tuan putri diringi isakan sedu tangisannya.
Entah kenapa para dayang yang terpecah pisah dihutan, berpapas kembali di tepian sungai tempat tuan putri itu tengah lemah bersimpu menatap langit sembari menadah kedua tangan dan suara isaknya lenyap oleh derasnya air hujan, dan kini tampaklah dimata kepala kedua dayang itu dan hatinya spontan tersentuh iba lalu matanya yang terkaca-kaca. kedua dayang itu kaku berdiri seakan tak bisa berbuat apa-apa.
"Maafkanlah aku pengawal, aku telah menantang tuturan engkau, yang membilang wanita menangis di pinggiran beranda kerajaan tadi harusnya bunuh diri, tahu lah aku perasaan kau wanita"
"Cduaaaaar" suara petir bersambut di sela-sela perkataan tuan putri, berkali-kali petir banyak itu saling sambut menyambut hingga menggempakan isi dada tuan putri beserta kedua dayang itu, tuan putri membiarkan wajah tangisnya penuh keputusasaan.
"Tuan putri, peganglah tanganku, ini tugasku untuk menolong dan memantau dirimu hingga hari pernikahan besar itu."  Imbau sang dayang pertama menjulurkan tangan kanannya di hadapan tuan putri, ia tegak dihadapannya dengan mata berbinar kaca.
"Janganlah menangis tuan putri, Jangan sesali wajah terluka mu, kau sudah murka pada dirimu sendiri. kau ingat ucapanmu menadahkan tangan sama dengan kau meminta dirimu sendiri sesuai perkataanmu..." sahut menegas dayang kedua.
"Putri kenapa Kau berkata itu pada Tuhan, segeralah Minta Ampun Tuan putri. Bukan pada siapa-siapamu, melainkan Tuhan" timpal dayang pertama bernada penuh kelembutan menatap wajah tuan putri yang tercoret-coret oleh luka.
"Jangan sentuh-sentuh aku!,.. pergilah kalian berdua dari tempat ini,!... kalau tidak mau aku sumpahi. Pergii!" teriak histeris tuan putri dengan hati bongkahan larva gunung meletus. Mendengar ucapan pedih itu kedua sang dayang bertatap penuh sia-sia berniat baik pada tuan putri, segeralah ia pergi meninggalkan seorang tuan putri bersimpu lemah di tengah hujan berkecamuk itu.
"Ucapanmu itu tidak pada Tuhan pun seperti bisa Ular mematikan" pungkas sang dayang kedua membendung kesalnya, meninggalkan tuan putri dengan kata-katanya barusan.
Tapi sang dayang pertama kurang setuju akan tanggapan sinis dayang kedua,  ia menjedakan langkah, ditengah hujan beriak-riak itu, hatinya menolak akan pergi meninggalkan tuan putri, karena amanah dari sang Raja maka ia tetap bertekad memantau tuan putri hingga tiba pernikahan nanti.
"Kau berkeputusan tetap menjaga tuan putri tak tahu diri itu?" tanya dayang kedua kurang setuju.
"Tunggu dulu. Aku tidak memaksa mu untuk tetap seperti ku, tapi satu Hal, Kau ingat ini Amanah, jadi, sampaikanlah berita kodisi tuan putri sekarang juga pada Raja dan Ratu!" ucap dayang pertama membulatkan tekad. tampak dayang kedua menghabisan waktu berfikir panjang.
"Baik, itu keputusan tepat! Dengan begitu biar Raja dan Ratu akan melihat putri kesayangannya itu" ucap dayang kedua sekilas senyum tipis penuh harapan.
***
"Kenapa kau begitu tergesa-gesa menghadap padaku, apa kau dayang kerajaan sebelah?" tanya sang Raja wajahnya terpancar sibuk keheranan. dayang kedua itu tampak bergetar di hadapan sang Raja yang tengah dalam zona duduknya.
"Betul Raja, Maafkan aku sebelum bicara, Aku ingin mengatakan berita penting ini pada Maha Raja sekarang! Tapi aku mohon janganlah dulu marah pada siapa-siapa!" ucap dayang kedua itu yang kini seakan berat untuk berbicara, Ia Tak tahu bagaimana Respon sang Raja mengetahui kondisi tuan putri. ia tersimpu takut di karpet yang membentang menghadap Raja.
Mendengar kalimat asing itu telinga Raja mendengung keras, tiba-tiba raut khawatir terundang di wajah tuanya.
"Apa itu dayang! Silahkan jelaskan sekarang Padaku! Jangan bertele-tele" ucap tegas melantang diudara suara kerasnya, dan hanya sekilas waktu hening sang dayang kedua coba-coba mencari kalimat tepat untuk menjawabnya.
"Sebelumnya Maafkan saya Raja, Maksudnya Kenapa Raja Membiarkan Tuan Putri bebas keluar rumah menjelang perkawinannya pada pangeran kerajaan kami!" jawab dayang itu kepalanya menunduk menyembunyikan raut gemetar dihadapan sang Raja amat tegas itu.
"Kenapa! kau tahu mulut ini sampai berbuih menyuruhnya untuk tak keluar rumah, kau tahu lagi, dia tipe wanita aneh, yang tak betah dipingit menjelang pernikahannya!" tambah Raja itu tatapannya amat dalam, menatap apa yang ada didepannya.
"Maafkan saya Raja, Kondisi tuan putri tak berkenaan, ia menangis histeris meratapi kemalangannya, kasihan dia hidungnya menjadi tak normal" terang sang dayang itu, sudah kehabisan pikiran untuk merubah-rubah jawaban sepatutnya.
"Apa? Kau tidak berbuat lelucon sembarangan?"tanya raja tegak berdiri dari duduknya itu seketika naik tensi bangkit dari keheningannya setelah menyimak perkataan sang dayang itu.
"Kehebohan apa ini Raja, kenapa pada dayang  satu ini?" sambut sang Ratu menatapi silih berganti wajah kaku kedua lelaki itu, dan di detik itu juga mereka berdua tampak terkejut akan sahutan Ratu mendadak memecah pembicaraan.
"Begini Ratu, Putri manis anda sedang tertimpa kemalangan, kini dia dijaga satu dayang yang dari kerajaan kami, dan kami diutus sang Raja untuk memantau calon Permaisurinya hingga akad perkawinan tiba"
"Apa?" Serentak kedua Raja dan Ratu itu saling bertukar pandang seraya ngernyitan wajah.
"Cepat Raja, sepertinya betul kata dayang ini, Cepat kita ikuti dayang ini. Beritahu kami segera!"
"Baik Ratu" 
Sebelum mereka menuju hutan tempat tuan putri meratap kemalangannya, tak lupa sang dayang kedua itu mengajak ikut sama Raja kerajaannya dan mendengar tuan putri sedang menangis tersedu-sedu sang Raja pangeran itu terpontang-panting cekat meninggalkan urusannya.
Sampailah mereka ditengah hutan itu, tepat didamparan tepian sungai tempat tuan putri meringis ratap kesedihan, tampak dayang pertama tergebu-gebu wajahnya terserbu pucat menyambut kedatangan gelisah sang Raja dan Ratu, terlebih di wakili seorang Raja Kerajaan dayang itu.
Sang Raja menatap segala penjuru yang sudah ditunjuk oleh dayang kedua itu, hujan hanya menyisakan rerintikannya yang tak lagi bersibak deras.Pangeran kerajaan sebelah melongo khawatir heran diatas kuda pacunya, dan yang menunjukkan tempat saja dayang kedua malah hancur hatinya disangka membohongi para Atasnya yaitu kedua Raja dan seorang Ratu, mereka bertiga bertatap tajam pada dayang kedua dan spontan tubuhnya bak tersambar petir.
"Maafkan para Raja dan Ratu! sepertinya ada kesalahpahaman"
"Dayang!" seru sang dayang pertama tergebu-gebu menghampiri mereka semua. seketika suara panggilan itu memecah tatapan yang lancip bertusuk yang kian mengguncang dada ke arah dayang pertama.
"Cepat beritahukan dimana tuan putri, padahal diakan ada disitu!" ucap gesa dayang kedua dadanya berguncang hebat dihadapan sang raja ratu itu.
"Maafkan saya raja, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa sang tuan putri berubah menjadi ular!" ucap getaran ketakutan pucat terlihat di Dayang pertama.
"Apa? Lelucon apa yang kau gunakan lagi? jangan berbasa-basi dayang" tegas Ratu menajamkan tatapan pada dayang pertama.
"T.tidak Maha Ratu, da.dayang betul s.sang putri berubah menjadi u.ular!" ucap isak terbata Raja dengan mata yang terkaca, sementara Baginda yang siap menikah itu banjir air mata diwajahnya wajahnya berkomat-kamit membendung marah, dan menajamkan tatapan pada kedua dayang itu.
"Tidak! kenapa kalian membiarkannya teracuni ular berbisa! Kalian sungguh tak becus ku amanahkan! Dusta!" teriak gertak raja itu pada kedua dayangnya hingga keduanya terbelalak menundukkan badan dan bersimpu di kaki sang Raja itu.
"Tidak, Sang Raja! engkau bisa membuktikannya dengan mata kepalamu sendiri!" ucap dayang kedua.
"Maafkan kami raja, ini salah paham besar!" timpal rengek dayang pertama
"Lihatlah baginda! Percayalah pada kami, lihat itu ularnya" ucap dayang kedua lalu berdiri diikuti oleh dayang pertama juga berdiri.
"T.tidak! Nak, Tuan putri kenapa kau bisa terjadi seperti itu, Ya tuhan kenapa engkau jadikan putri tunggalku menjadi ular berbisa!" teriak histeris sang Ratu ikut tercurah air mata menyayat.
Sang kedua Dayang itu lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya menimpa tuan putri, kemalangan tak dapat dielakkan, Sang Ratu dan Raja tak dapat menahan isak tangisnya bersedu-sedu menghadap ular yang kini terdiam itu tampak matanya bertitik sebening air mata.
"Maafkan saya Dayang, Saya sebagai baginda terlalu kejam pada kalian, ini memang kesalahan tuan putri!" ucap sang Raja itu gantian bersimpu pada kaki sang kedua dayang.
"Kenapa tuan putri, padahal pernikahan tinggal menunggu berapa hari lagi,. Walau hidungmu serta wajahmu yang....."ucapan raja terpotong, karean mendengar itu ular panjang bersisik emas itu bergerak hingga menuju kaki sang Raja.
Sang Raja pun terduduk dan memelai ular emas itu yang tampak berair di wajahnya, diiringi wajah pangeran itu yang berderai air mata hingga jatuh ke sisik-sisik ular keemasan itu.
"Putri, Kau telah bertanggap buruk, kau jahat serta putus asa! kenapa kau berdoa pada Tuhan untuk melenyapkan dirimu, saya tahu dari kedua dayang baginda, Sakit tuan putri saya bertemu dengan kamu dengan mimpi buruk ini, seharusnya pertemuan pertama kita lebih harmonis!"
"Asal kamu tahu, aku menerima cintamu ala kadar tubuhmu putri, Aku tetap akan menikahimu walau ular emas!" mendengar ucapan tegas sang Pangeran itu, semua terbelalak hingga bangun dari keheningan menyayat-sayat.
Lalu langit kembali mendung dan awan abu-abu bertebaran dan segeralah turun hujan deras kesekian kalinya di hari mimpi buruk itu. karena hujan deras takut membecekkan hutan segeralah sebelum itu para Kedua Raja dan Ratu yang masih menutup wajahnya menahan tumpahan air mata disertai suara isaknya yang tak terdengar jelas kembali ke kerajaan dengan membawa kecewa mengalahkan luas samudra. dan Raja yang coba membawa ular itu namun ular emas panjang mengkilat itu kembali ke sungai berenang-renang disana.
Tak berapa lama telinga sang Pangeran bergelitik memunculkan perasaan kecurigaan di belakangnya, ia lupa membawa kuda kencananya untuk dinaikinya pulang, segeralah ia membalikkan badan dan beranjak ke kuda itu namun kejadian tak diduga ada seorang wanita cantik kaku menatapnya dalam-dalam.
"Tuan putri? i.itu kau, bukannya kau ular emas?"  sang Pangeran tebata dadanya begitu cetar meledak kaku seakan tak percaya.
"Pangeran? engkaukah pria Raja yang tampan itu?"
"Betul tuan putri! Aku mencintaimu, Aku sudah berjanji akan menikahi mu di minggu ini!"
"Pangeran.. Maafkan putri" tuan putri mendekapnya erat-erat seakan tidak mau lepas selama-lamanya. Suara tangis bahagia itu terdengar oleh Raja dan Ratu serta Dua Dayang yang juga kembali menumpahkan air mata bahagia tiada tara.
"Tuan putri, syukurlah engkau balik putri sayangku" jerit histeris sang Ratu kesekian kalinya.lalu semuanya mendekap peluk tuan putri penuh kebahagiaan.
Setelah kejadian itu, tuan putri berampun pada Tuhan tak akan mengucapkan sembarangan doa pada sebuah kemalangan, dan selalu mensyukuri kesehatan dan kecantikan yang sudah dikaruniakan oleh Tuhan, dan tuan putri tak akan berputus asa, jika ia berbicara bagai bisa ular yang tajam seperti menyuruh bunuh diri, ia akan dirubah lagi menjadi ular dan ular hingga tiga kali akan permanen, jadilah putri disebut Putri Ular. tapi walaupun dijuluki demikian tuan putri tak mau berbicara bisa ular di hadapan Tuhan
 Tibalah hari pernikahannya bersama sang Pangeran yang tampan dan disambut bahagia oleh anak buah dan penasehat setianya serta kuda beringkik girang seakan mengatakan.
"Selamat menjalankan hari-hari baru sepasang pengantin semoga berbahagia sepanjang hayat, hingga di Surga"
TAMAT

1 komentar: